TUGAS 2 Kewirausahaan Di Era Digital MKDI4203

"MODESTA HIJAB" MENDEFINISIKAN ULANG VALUE PROPOSITION DI ERA DIGITAL Alya (26 tahun) adalah seorang sarjana manajemen yang mendirikan brand jilbab bernama…

Kategori
TUGAS TUTON
Kode dokumen
J21-1A2DB26F
Format
DOCX
Jumlah halaman
3
Tahun
2026

Isi dokumen

Kewirausahaan di Era Digital (MKDI4203) Rahman, M. Pd. "MODESTA HIJAB" MENDEFINISIKAN ULANG VALUE PROPOSITION DI ERA DIGITAL Alya (26 tahun) adalah seorang sarjana manajemen yang mendirikan brand jilbab bernama "Modesta Hijab" di Bandung. Memulai bisnis dari kamar tidurnya dengan modal tabungan magang, Alya awalnya menjual jilbab segi empat ( square hijab ) polos berbahan voal. Dalam dua tahun pertama, Modesta berjalan cukup baik menggunakan strategi generik seperti posting foto produk di Instagram, ikut bazar lokal, dan bersaing lewat perang harga di marketplace . Namun, memasuki tahun 2026, Alya menyadari bisnisnya mulai stagnan. Kompetisi jilbab lokal sangat berdarah-darah ( red ocean ). Ratusan kompetitor baru bermunculan setiap minggu dengan model yang mirip dan harga yang jauh lebih murah karena diproduksi massal oleh konveksi besar. Alya sadar jika ia terus bertahan di model bisnis ini, Modesta Hijab akan tergilas. Ia harus bertransformasi dari sekadar "penjual jilbab" menjadi sebuah "brand gaya hidup" ( lifestyle brand ) yang memiliki posisi kuat di benak konsumen. Untuk melakukan transformasi bisnisnya Alya menghadapi tantangan yaitu harus dapat membaca karakter generasi baru Hijaber secara tepat. Alya memutuskan untuk membidik segmen yang sangat dinamis: Wanita muda Muslimah (usia 18–30 tahun) di perkotaan Indonesia. Kelompok ini memiliki karakteristik unik yang belum mampu diwadahi oleh lini produk Modesta saat itu. Segmen itu mempunyai karakteristik yang unik yaitu: 1) Digital native dan estetika sentris, Mereka tidak hanya mencari jilbab untuk menutup aurat, tetapi sebagai ekspresi diri. Mereka sangat aktif di Tik Tok dan Instagram, menyukai visual yang estetik, bersih, dan mengikuti tren warna global (seperti earth tone dan pastel ). 2) Mobilitas tinggi dan fleksibilitas, profil konsumennya adalah mahasiswi aktif, first-jobber (baru mulai bekerja), dan kreator konten digital. Mereka butuh jilbab yang praktis, tidak mudah kusut, tegak di dahi, namun tetap terlihat formal untuk rapat dan nyaman untuk nongkrong di kafe ( cafe- hopping ). 3) Amanah digital, mereka sangat dipengaruhi oleh ulasan Clozette (komunitas fashion) atau Get Ready With Me (GRWM) dari para micro-influencer . Alya menyadari bahwa Modesta selama ini memperlakukan semua konsumen sama rata. Ia belum melakukan segmentasi pasar yang tajam, sehingga Value Proposition (nilai jual unik) yang ia tawarkan masih terlalu kabur. Alya memutuskan untuk berhenti sejenak dari rutinitas jualan harian dan mendesain ulang strategi bisnisnya melalui dua pilar utama yaitu: 1)Membedah Segmentasi Pasar secara Tepat. Alya membagi calon konsumennya menjadi tiga segmen spesifik ( Persona-Based Segmentation ) untuk mengetahui siapa yang paling berpotensi memberikan keuntungan jangka panjang Alya mengklasifikasikan segmennya sebagai berikut:  Segmen 1: "The Campus Trendsetter" (Usia 18-22). Fokus: Harga terjangkau, warna pop, pengaruh Tik Tok.  Segmen 2: "The Corporate Hijabi" (Usia 23-28). Fokus: Kepraktisan (ironless), kenyamanan, elegan, semi-formal.  Segmen 3: "The Aesthetic Traveler" (Usia 25-30). Fokus: Bahan premium untuk foto OOTD, ketahanan cuaca. Alya memilih Segmen 2 ("The Corporate Hijabi") sebagai target utamanya karena mereka memiliki daya beli mandiri yang stabil dan membutuhkan solusi nyata atas masalah berpakaian sehari-hari di dunia kerja modern.
Alya merumuskan ulang nilai jual Modesta Hijab meninggalkan posiitioning "Jilbab Voal Murah", menggunakan pendekatan pemecahan masalah ( problem-solution fit ) yang berfokus pada gaya hidup digital seperti "Modesta 'Effortless Elegant' Hijab yaitu Jilbab anti-kusut berserat mikro-bambu yang tegak dalam 3 detik, dirancang khusus untuk wanita karier aktif yang beralih dari layar Zoom ke pertemuan tatap muka tanpa kehilangan waktu. Nilai unik yang ditawarkan Alya meliputi tiga dimensi: 1) Fungsional ( The Product ): Kain dengan teknologi ironless (tidak perlu disetrika) dan bahan serat bambu yang dingin (menyerap keringat di iklim tropis). 2) Emosional ( The Feeling ): Meningkatkan rasa percaya diri saat presentasi atau membuat konten digital tanpa khawatir jilbab terlihat lecek atau tidak rapi. 3) Digital terintegrasi ( The Experience ): Setiap jilbab dikemas dengan kode Spotify berisi playlist produktivitas kerja dan tautan menuju filter Instagram eksklusif yang menyesuaikan warna hijab dengan skintone wajah pengguna secara virtual sebelum membeli. Untuk mendukung pengembangan strategi segmentasi dan value proposition yang baru Alya memperkuat dengan cara mengeksekusi ranah digital. Dengan modal konsep baru tersebut, Alya merintis kembali pemasaran Modesta Hijab ke pasar yang lebih luas tanpa modal raksasa yaitu: 1) Pemasaran Berbasis Komunitas (Community-Led Growth), Alya membentuk circle digital bernama "Modesta Sisterhood" di Telegram, wadah bagi para wanita muda bertukar tips karier, kesehatan mental, dan mix-and-match pakaian kerja. Di sini, produk Modesta masuk secara halus sebagai solusi, bukan jualan keras ( hard selling ). 2) Memanfaatkan Live Selling dengan Storytelling, dimana Alya sendiri turun langsung menjadi wajah dari brand-nya saat melakukan Live Shopping di Tik Tok dan Shopee. Ia tidak berteriak menjajakan harga murah, melainkan mendemonstrasikan tutorial: "Cara styling 1 jilbab Modesta untuk 3 kegiatan berbeda: Wawancara kerja, meeting klien, dan dinner bareng teman." 3) Data-Driven Decision, Alya memanfaatkan fitur analitik di media sosial untuk melihat warna apa yang paling sering disimpan ( saved ) oleh audiens. Data ini ia jadikan acuan untuk memproduksi jilbab secara terbatas ( limited drops ), menghindari penumpukan stok mati di gudang. Dengan strategi jitu tersebut Dalam waktu enam bulan setelah menerapkan penajaman segmentasi dan value proposition yang kuat, Modesta Hijab berhasil keluar dari jebakan perang harga. Meskipun Alya menaikkan harga jilbabnya sebesar 40% dari harga awal, penjualan justru meningkat tajam. Produknya kini dikenal di kalangan hijabers muda perkotaan sebagai "seragam wajib" wanita kantoran modern yang modis. Melalui ekosistem digital yang ia bangun dengan cerdas, Alya berhasil membuktikan bahwa memahami siapa konsumenmu dan apa masalah spesifik mereka jauh lebih berharga daripada sekadar menjual produk massal tanpa identitas. PERTANYAAN:

1. Saudara diminta menjelaskan arti penting segmentasi dan menciptakan value proposition canvas untuk mempertahankan bisnis di era digital.

2. Saudara diminta menjelaskan jenis segmentasi pasar yagn dipilih Alya dan berikan alasan yang konstruktif (kaitkan dengan narasi kasus).

3. Saudara diminta menjelaskan strategi value proposition canvas yagn dikembangkan Alya dengan “Modesta Hijab” untuk memperkuat segmentasi pasar yang baru (kaitkan dengan narasi kasus). JAWAB
SOAL 1 Segmentasi pasar merupakan proses membagi konsumen menjadi beberapa kelompok berdasarkan kesamaan kebutuhan, karakteristik, dan perilaku pembelian. Segmentasi sangat penting dalam bisnis digital karena setiap konsumen memiliki selera, kemampuan membeli, dan kebutuhan yang berbeda. Dengan segmentasi yang tepat, perusahaan dapat menentukan produk, harga, serta strategi pemasaran yang sesuai dengan kelompok konsumen yang ingin dijangkau.

TUGAS 2 TEORI KOMUNIKASI

TUGAS 2 - TEORI KOMUNIKASI Kelompok yang baik adalah kelompok yang mampu bertahan dalam waktru relatif panjang, memiliki tujuan dan ada struktur interaksi.

Kategori
TUGAS TUTON
Kode dokumen
J21-5892A2D6

TUGAS 2 TEORI AKUNTANSI

TUGAS TUTORIAL KE-2 PROGRAM STUDI AKUNTANSI Nama Mata Kuliah: Teori Akuntansi Kode Mata Kuliah: EACC4421 Jumlah sks: 3 sks Nama Pengembang: Agung Joni Saputra…

Kategori
TUGAS TUTON
Kode dokumen
J21-D300F981